Episode 4 – Lio dan Luna

Standard

Kalo kalian belum baca episode sebelumnya bisa klik dilink bawah ini.

Prolog

Episode 1

Episode 2

Episode 3
Keesokan harinya saat berada disekolah, Luna baru saja masuk di gerbang sekolah, dan dari arah belakang secara tiba-tiba terlihat Lio dan Ayu bergandengan naik motor. 
Lio dan Ayu berjalan melewati Luna, Lio sedikit menarik gasnya seakan ingin menunjukan kepada Luna bahwa ia sudah move on, sedangkan Ayu memandang Luna dengan sinis.
Melihat itu, Luna seakan merasakan jatuh ke dalam laut yg dalam tanpa dasar. Dadanya mulai sesak dan nafasnya mulai tak beraturan tanpa bisa dibendung air matanya menetes kembali.
“Kenapa ya Tuhan ? Kenapa orang yang pertama membuatku merasakan jatuh cinta, dia juga yang membuat aku pertama kali merasakan sakit hati ?” 
“aku gak bisa kayak gini terus, aku gak mau jadi cewek lemah!” dengan mengusap airmatanya Luna mengatakan hal itu untuk menguatkan dirinya sendiri.
Sementara itu Lio sedang berada di halaman lapangan basket sekolah, dan Ayu terlihat sedang bermain bola basket.
Tiba-tiba saat ayu bermain basket, ia tersandung dan hampir jatuh tapi dengan sigap Lio menolongnya sehingga tidak terjatuh. Posisi Lio menangkap Ayu sangat mesra dan mereka saling menatap.
Moment ini membuat mereka berdua berdebar-debar, udah kayak ftv aja…
“ma.. maaf.. gue kesandung tadi” kata Ayu dengan nada gelagapan.
“kamu gapapa ? Ada yg luka ? Keseleo ?” tanya Lio khawatir.
“gapapa kok gapapa.. Aku baik-baik aja” jawab Ayu
“beneran ? Syukurlah..” balas Lio dengan lega.
“makasi ya.. Untung ada kamu” balas Ayu dengan tersipu malu
“haha mungkin kita jodoh ?” celetuk Lio berusaha kodein Ayu.
“hah ?” jawab Ayu pura-pura heran padahal emang mau juga.
“lupain aja.. Eh btw lo suka basket ya ?” Lio berusaha mengalihkan suasana yang mulai awkward.
“hmm, gua sih baru belajar belum jago banget”
“wah mau gua ajarin gak ?” Lio berusaha menawarkan diri, maksudnya sih cuma cari kesempatan buat deketin Ayu.
“emang lo bisa main basket ?”
“huh, ngeremehin lo, bisalah..”
“oke kalo gitu nanti sore ya jam 4.”
“okee sip” tutup Lio.
– Dirumah Luna
Luna sedang berada dikamarnya dan menghadap ke kaca.
“Aku harus berubah, aku gak mau jadi cewek culun yang diremehin sama orang lain!”
Sejak saat itu Luna berusaha merubah penampilannya, ia merubah style rambutnya, cara berpakaiannya, dan ia melepas semua sifat keculunannya bahkan bahasanya ikut dirubah.
– Sore hari dilapangan basket sekolah.
“Hei!” jerit Ayu kepada Lio yang sudah berada di lapangan.
“Hei, lo telat 2 menit 10 detik” canda Lio
“yaelah gitu amat lo, ayo ajarin gue”
“hahaha, sini gue ajarin cara shooting bola basket”
Lio mengajari Ayu bagaimana shooting basket yang benar. Tentu dengan memegang tangan Ayu, hal itu membuat ayu baper.
Ayu memandangi wajah Lio sedangkan Lio masih asik mengajari Ayu. Ayu sudah tidak konsen dan larut dalam suasana tersebut yg membuat dia terpana.
“yu… yu… ayu!” kata Lio
“hah .. Apa apaa ??” Ayu kaget mendengar suara Lio.
“lo kenapa ? Terpesona sama ketampanan gue ya ? Hahaha” Jawab Lio dengan nada menggoda.
“hmm dasar.. Ada yang besar nih kepalanya”
“yee dasar pura-pura jual mahal.. Udah itu coba tembak ke ring bolanya”
“iya iya aku coba”
Ayu melakukan percobaan pertama untuk memasukan bola ke ring basket.
Whoosh bola dilemparkan ke ring dan masuk!
“yeay masuk ahahaha” ungkap Ayu kegirangan.
“hebat!!” balas Lio
Hari itu mereka menikmati latihan mereka bersama, canda tawa mengiringi proses latihan sore itu, yang membuat Lio dan Ayu semakin baper. 
Tak terasa matahari sudah mulai terbenam tanda petang telah tiba.
“udahan yuk dah mulai gelap nih” kata Ayu
“yuk” jawab Lio singkat sambil terengah-engah setelah bermain basket bersama Ayu.
Mereka mengambil air dan duduk bersebelahan.
Saat Lio meminum air di botol minumnya, keringatnya mengalir deras. Dari arah sebelah tiba-tiba ayu mengelap wajah Lio yang penuh keringat dengan lembut menggunakan handuk kecil miliknya.
Moment romantis ini sangat dinikmati oleh mereka berdua, mereka saling bertatap dan tersenyum.
“Yu..” panggil Lio.
“iya ?”
“makasi ya lo ada disaat gue down”
“gapapa santai aja Lio”
“yu.. Lo mau gak jadi pacar gue ?” secara mendadak, saat itu juga Lio menembak Ayu.
“hah ?” Ayu kaget mendengar perkataan Lio, dia sangat tidak menyangka secepat itu Lio jatuh kepelukannya.
“kenapa kaget ? Lo mau gak jadi pacar gue ?” tanya Lio lagi
“gue mau” jawab Ayu dengan kegirangan.
Sontak saat itu juga Lio memeluk Ayu dengan erat. Senyum lebar kegirangan terbesit dalam wajah mereka berdua.
Setelah beberapa saat mereka melepas pelukan mereka.
“gue sayang sama lo” dengan lembut Lio menyampaikan perasaannya kepada Ayu.
“gue juga sayang sama lo” balas Ayu dengan lembut.
Suasana semakin hangat, tatapan mereka semakin dalam, perlahan Lio mendekatkan bibirnya kepada Ayu.
Ayu yang menyadari situasi tersebut juga mendekatkan bibirnya kepada Lio
Uhhh. Tanpa bisa ditahan lagi mereka pun berciuman dengan mesra. 

Advertisements

Episode 3 – Lio dan Luna 

Standard

Kalo kalian belum baca episode sebelumnya bisa klik dilink bawah ini.

Prolog

Episode 1

Episode 2
Dari hari itu tingkah Luna sangat aneh di mata Lio. Setiap mereka berpapasan Luna selalu pergi menjauh. Ia tidak memberikan kesempatan kepada Lio untuk bertanya.

Chat dari Lio pun tidak pernah dibalas oleh Luna. Lio menjadi gundah gulana dibuatnya.

“apa gue ada salah sama dia ya ? Gue harus bicara, gak bisa tenang kalo kayak gini” Lio memutuskan untuk bicara secara paksa dengan Luna saat pulang sekolah nanti.

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Luna bergegas untuk pulang. Saat Luna berjalan menuju gerbang sekolah, datanglah Lio mencegat tepat di depannya.

“Luna!” teriak Lio.

Luna tidak menjawab dan berusaha pergi meninggalkan Lio.

Lio menghadang Luna lagi “Lo kenapa sih ? Gua ada salah apa ? Ngomong dong”

“Nggak ada kok, aku mau pulang” jawab Luna dengan menundukan kepala.

“kalo nggak ada apa-apa kenapa lo menghindar dari gue ?”

Luna diam seribu bahasa.

“Jawab dong, gue gak ngerti sama jalan pikiran lo. Kalo emang gak suka sama gue, bilang aja langsung, jangan buat kesabaran gue habis”

Luna sangat bingung saat itu, ia sangat tertekan satu sisi ia takut dengan ancaman ayu dan satu sisi ia menyukai Lio.

“kalo lo gak bisa jawab berarti bener lo gak suka sama gue”

Mata luna mulai berkaca-kaca, ia ingin menceritakan kejadian yang sebenernya tetapi ia tak sanggup menanggung akibatnya.

“oke, diem lo itu adalah jawaban. Gue akan pergi dan gak bakal ganggu lo lagi.” Lio pergi meninggalkan Luna dengan sangat kesal dan marah.

Seketika itu air mata Luna berlinang dengan deras. Ia menangis tersedu-sedu dan merasa sangat bersalah.

Sejak saat itu Luna suka bengong dan sedih, baik dirumah maupun disekolah Luna tidak pernah terlihat tersenyum, hanya kesedihan yang tampak dalam wajahnya.

Sedangkan Lio sangat kesal dan tidak percaya akan semua yang telah terjadi. Tapi Lio berusaha untuk move on dari Luna.

Saat-saat seperti ini dimanfaatkan oleh ayu cabe-cabean itu.

Lio sedang berada dikantin dengan muka muram, datanglah ayu ingin menghiburnya.

“Lio lo kenapa ?” tanya Ayu tanpa perasaan berdosa.

“Gak apa-apa”

“Gue denger Luna ngejauh dari lo ya ?”

Lio sedikit menoleh ke arah ayu sesaat. “Lo tau darimana ?”

“Yaampun Lio, gue tau dari temen-temen lo lah..”

Lio tidak membalas jawaban Ayu.

Luna saat itu sedang belanja dikantin, dan ia melihat Lio dan Ayu tanpa disengaja. Ayu yg menyadari hal itu mengambil kesempatan.

“Udah Lio daripada lo galau mending kita nanti malam nonton aja, lo butuh refreshing kan ?”

Lio ternyata juga menyadari kehadiran Luna disana. Lio tidak ingin terlihat lemah dimata Luna, oleh karena itu ia menerima tawaran Ayu.

“ok ayo, gue juga gak ada acara” Lio mengiyakan ajakan Luna sambil memegang tangannya. Dan pergi meninggalkan Luna.

Luna yang melihat kejadian itu di depan matanya menjadi sangat sedih. Dia teringat kembali akan kenang-kenangan yang pernah mereka alami bersama.

Malam itu tiba, Lio menjemput Ayu untuk pergi ke bioskop.

Lio tiba di depan rumah Ayu, dan membunyikan bel motor ninja miliknya.

Ayu melihat dari jendela kamarnya Lio sudah datang, ia bergegas menemui Lio.

“maaf ya lama..”

“nggak papa , btw kamu cantik banget malem ini” Lio terpesona melihat ayu malam itu, karena Ayu sangat cantik.

“gombal lo haha, yuk jalan” jawab ayu.

Mereka pun tiba dibioskop.

“yuk masuk” ajak Lio sambil menawarkan tangannya untuk di gandeng.

“ayuk” Ayu membalas dengan menggandeng tangan Lio.

*di dalam bioskop

Terlihat adegan terakhir film aadc 2.

“gila romantis banget filmnya ya” kata ayu.

“baper lo ya hahaha” balas Lio menyeringai

“ih apaan sih ?” dengan nada malu-malu ayu menjawab.

“Mau kemana lagi kita ?” tanya Lio

“hah ? Kemana lagi ? Maksudnya ?” tanya Ayu balik.

“ya kali aja mau jalan lagi” jawab Lio dengan nada merayu.

“pulang aja deh udah malem, gak enak sama mama”

“oke kalo gitu”

Kemudian mereka pulang ke rumah ayu.

“makasi ya” jawab Ayu dengan senang.

“gue yang makasi..” balas Lio

“kenapa ?”

“ya karna lo udah bikin galau gua hilang”

“hmmm iyayaa, udah gak usah dipikirin lagi si Luna dia cuma bikin lo galau.” Ayu berusaha membuat Lio melupakan dan membenci Luna.

“ya pasti lah, sekali lagi makasi ya”

Hari itu Lio dan Ayu mulai dekat. Lio tetap tidak tau bahwa sebenarnya Luna menjauh karena ancaman Ayu.

Sementara itu di malam yang sama Luna sedang berada dikamarnya. Luna sangat sedih. Luna teringat moment Lio menggandeng Ayu dikantin yang membuat dia untuk pertama kali merasakan sakit hati.

Episode 2 – Lio dan Luna

Standard

Kalo kalian belum baca episode sebelumnya bisa klik dilink bawah ini.

Prolog
Episode 1
– Dirumah Lio
Lio mendapat notifikasi di linenya dia bahwa Luna telah menambahkan dia sebagai teman, sontak hal itu membuat Lio senang bukan kepalang. Lio makin penasaran dengan Luna. Tanpa basa basi Lio chat Luna duluan.
“Gimana besok mau gue jemput ?” tanya Lio lewat Line
*5 menit berlalu
“kok gak dibales-bales ya ? Mungkin lagi mandi”
*10 menit berlalu
“anjir lama banget dah di bales.”
*3 jam kemudian
“buset kayaknya handphone dia di hibernasi ni, pesan gue di read aja kagak.. Hiks.”
– Sementara yang terjadi pada Luna
“tengnong” Notifikasi Line masuk ke handphone Luna, dengan sigap Luna melihat dari siapa pesan itu. Luna hanya membaca notifikasinya tapi tidak membuka pesannya karena dia bingung mau jawab apa sama Lio.
“aku baru kenal sama dia, tapi rasanya dia orang baik.. Tapi masak aku langsung mau gitu dianter sama orang yg baru kenal ? Ntar dia kepedean lagi. Tapi kalo diliat-liat Lio emang baik sih.. Ganteng juga. Hmmm aku bingunggggg…. Mending aku tidur aja ah” Pikir Luna dalam hati.
Itulah sebabnya kenapa Luna tidak balas Line dari Lio.
– Kembali ke tempat Lio.
“gue telpon aja kali ya ?”

Lio ingin menekan tombol call.. Tapi gak jadi.
“ah masak gue telpon sih ? kayak ngebet amat, gue kan the most famous guy disekolah masak gue sampai nelpon segala ?” Lio masih bergumul dalam pikirannya.
“udah Lio telpon aja.. Jangan gengsi”

Kata malaikat baik
“jangan Lio… Masak ia lu yg nelpon duluan sih ? Reputasi lu hancur lah”

Bantah malaikat jahat
“cewek kayak Luna itu butuh usaha lebih, telpon aja..” balas malaikat baik
“hmmm bener juga sih kata dia..” lanjut malaikat jahat
“jangan pikir panjang telpon aja kalo emang lo mau dapetin hati Luna” tegas malaikat baik lagi
“yaudah deh gue setuju sama dia kali ini” hanya kali ini malaikat jahat sependapat sama malaikat baik.
“yaudah deh gue telpon aja, btw tumben kalian akur, sering sering lah akur hahaha” jawab Lio kepada pikirannya sendiri.
“kring kring kring”
“aduh Lio telpon, angkat gak ya ?” besit Luna dengan pelan
“angkat dong Luna.. Please” dengan harap harap cemas Lio nungguin Luna ngangkat telponnya
*tarik nafas.. “oke gue angkat..”
“halo..”
“hei halo Luna… Hmm liat line gue dong”
“oh iya kenapa ?”
“ya gimana ? Besok mau gue jemput ?”
“hmm gimana ya aku bingung..”
“lo takut sama nyokap lo ?”
“nggak sih..”
“terus ?”
“aku takut ngerepotin kamu”
“yaelah nggak lah.. yaudah besok gue jemput ya..”
“eh jangan..”
“udah fix gue jemput lo”
“tut tut tut”
Luna kaget karena Lio langsung ambil keputusan buat jemput dia. Tapi sebenernya Luna senang Lio mau jemput dia kesekolah. Saat itu bagi Luna rasanya seperti ke awan awan kepalanya langsung besar.
Lio juga senang akhirnya bisa jemput Luna, ini kesempatan buat dia lebih deket sama Luna.
-keesokan harinya.
“Luna.. Luna..”
“tunggu bentar”
Gumam Lio dalam hati “bentar lagi dia bakal duduk dibelakang gue, kesempatan buat di peluk hahaha”
“sorry ya lama”
Woww tak disangka Luna tampil sangat cantik pagi itu sehingga membuat Lio terpana sampai-sampai air liurnya jatuh
“ih jorokkk deh kamu” dengan tertawa Luna menegur Lio
“eh maaf maaf” Lio mengusap liurnya sendiri dari bibirnya.
“kamu cantik banget pagi ini” rayu Lio
“apa sih.. Yuk jalan udah siang” potong Luna dengan singkat.
Mereka pun berangkat menuju sekolah. Di tengah perjalanan mereka mulai mengobrol dan terlihat lebih akrab dari hari kemarin. Hanya canda tawa yg terdengar di perjalanan mereka menuju sekolah. Sepertinya mereka mulai menemukan kemistri mereka.
Hari terus berganti, tak terasa seminggu sudah mereka selalu berangkat bareng dan pulang bareng. Tapi memang tak pernah ada perjalanan cinta yang mulus, the gang cabe-cabean tentu sangat tidak terima kalau Luna dekat dengan Lio. Mereka pun bermaksud untuk menjauhkan mereka berdua.
Saat itu jam istirahat, Luna sedang sendiri di kelas, lalu datanglah gang cabe-cabean.
“eh lo cewek murahan! Berani bener lo deketin Lio ya ? Lo cari masalah sama gue ?” bentak ayu ketua gang cabe-cabean.
“loh kenapa kamu marah-marah ? Lagian bukan aku yg deketin Lio, tapi Lio yang deketin aku” jawab Luna dengan takut.
“Lo gak tau ? Bertahun-tahun gue berusaha deketin Lio tapi gue gak pernah bisa dapetin dia. Sedangkan lo ? Cuma cewe cupu bisa dapetin hati Lio ? Lo pake pelet ya ?” bentak ayu dengan keras
Tanpa memberikan kesempatan Luna untuk menjawab, ayu terus melanjutkan ucapannya “pokoknya gue gamau tau, lo harus jauhin Lio TITIK.” mereka langsung meninggalkan Luna dengan menabrak bahu dia sebagai puncak kekesalan mereka.
Luna sangat sedih dan takut, pikirnya dalam hati “kenapa ini semua terjadi sama aku ? Disaat aku menemukan laki-laki yang bisa membuat aku nyaman ternyata ada orang yang tidak suka dengan hubunganku ini. Apa aku harus menjauh dari dia ?”
Luna sangat galau. Sementara itu Lio datang kepada Luna. Luna yg melihat Lio datang mendekat langsung bangun dan pergi keluar.
Gumam Lio “Luna kenapa ya ? Aneh..”

Episode 1 – Lio dan Luna

Standard

Silahkan baca dulu prolognya disini

 

“Bilang iya aja susah.. yuk naik” jawab Lio sambil menghidupkan motornya.

Tanpa berkata-kata lagi Luna naik ke motor Lio dengan terpaksa. Dalam perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Sampai akhirnya Luna tersadar bahwa ini bukan jalan kerumahnya. Dan Luna mulai merasa takut.

 

“Kok kita lewat sini sih ? ini kan bukan jalan ke rumahku! Jangan-jangan kamu mau cari hotel buat perkosa aku terus mau mutilasi aku beneran ya ?!” Tanya Luna dengan gemetar.

 

“yaampun muka gue ganteng tanpa dosa gini lo sangka orang bejat. Gelo banget sih! Lo kan belum ngasi tau rumah lo dimana ya jelas gue nggak tau. Ya karna gak tau gue jalan aja lagian lu gak protes encim

 

“Rumahku di jalan teuku umar no 22, puter balik sekarang” masih dengan mimik ketakutan. Memang Luna orangnya introvert jadi tidak terbiasa menerima kebiasaan orang yang vokal seperti Lio.

 

“iyaiyaa santai kayak dipantai lah.. gue bukan orang jahat. Cantik-cantik kok penakut sih.”

 

Luna langsung tersipu malu mendengar pernyataan Lio. Seumur hidup Luna belum ada cowok yang bilang dia cantik karena notabene cowok-cowok pada ilfil buat deketin Luna karena saking pendiam dan juteknya dia. Perjalanan kembali berlanjut.

 

“Loh kok kita berhenti disini ?” Tanya Luna heran.

 

“Ini caffe Pablo, tempat favorit gue buat nongkrong, kita minum bentar lah panas banget gue haus”

 

“kenapa gak minum dirumah aja ? kan tanggung.” Balas Luna dengan judes, karena jam sudah menunjukan pukul 3 sore ia takut dimarah oleh ibunya karena pulang telat.

 

“santai aja kali gue yang bayarin. Mas kayak biasa ya… 2” Jawab Lio singkat dan langsung memesan ke mas wahyu pelayan langganannya.

 

“oke siap, btw itu siapa ? tumben loh mas Lio bawa cewek kesini.. pacarnya ya ?” celetuk mas wahyu

 

“ENGGAK” jawab mereka bersamaan. Mereka berdua pun heran dan saling tatap.

 

“wah kompak banget kalian, semoga cepet jadian ya” sindir mas wahyu lagi.

 

“mas punyaku dibungkus aja ya, aku udah ditunggu mama dirumah”

 

“loh kok dibungkus sih ? minum disini aja keles buru-buru amat lo” Balas Lio.

 

Jawab Luna dengan gelisah “sekarang udah jam 3 lewat ibu aku pasti bingung cariin aku”

 

“yaelah, ini udah abad ke 21 lo masih aja kayak anak zaman babilonia. Tinggal Whatsapp, line, bbm kek kan bisa.” Kata Lio dengan sedikit kesal.

 

“aku gak dikasi bawa handphone kesekolah”

 

“APA ?!”

Lio sangat kaget. “Yaampun ini udah 2017 yang bener aja lu gak dikasi bawa handphone kesekolah ?”

 

“iya emang kenapa ? salah ?” jawab Luna dengan santai

 

“Zzzzz lo udah kayak hidup di zaman belanda tau gak sih. Yaudah mas bungkus aja soalnya gue mau cepet-cepet anter si cewe kudet ini, ntar emaknya marah lagi berabe gue.”

Mas wahyu pun membungkus minuman mereka dan mereka melanjutkan perjalanan mereka. Ditengah perjalanan, situasi hening tanpa ada obrolan sepatah kata pun. Luna tampak kesal dengan Lio karena sikap Lio yang dinilai merendahkan dirinya. Lio sendiri pun sedikit ilfil dengan Luna karena Luna orangnya sangat kudet. Walapun begitu, Luna sedikit berterimakasih kepada Lio karena Lio sudah mau nganterin dia pulang kerumahnya. Kalau nggak, Luna udah jadi cacing kepanasan nangkring di depan sekolah.

 

-Sampai dirumah Luna

 

“makasi ya, maafin kata-kata ku yang bikin kamu kesel tadi.” Kata Luna dengan nada lembut.

 

“nah gini kek dari tadi! Kan gue gak usah pake urat ngomongnya.. ya gapapa gue juga minta maaf udah ngatain lo anak zaman babilonia.” Balas Lio

 

“iya.. aku masuk dulu” Luna berjalan masuk kedalam rumahnya. Lio pun yang tadinya kesal sekarang sudah tidak kesal lagi. Pikir Lio dalam hati “ternyata manis juga ya dia, tapi kadang ngeselin jutek amat… tapi gue jadi makin penasaran sama ni anak..”

 

“Luna” Jerit Lio.

 

“Apa ?”

 

“Besok mau gue jemput ?”

 

“hah ? gausah” dengan cepat Luna menjawabnya.

 

“Rumah gue deket sini kok, jadi kalo berangkat sekalian lewat. Kalo lo mau, add id line gue liorafael disambung huruf kecil semua. oke? Gue duluan” kemudian Lio jalan pulang kerumahnya.

 

Sebenernya dalam hati Luna senang sekali ada cowok yang care sama dia. Sebelumnya Luna tidak pernah memiliki pengalaman yang seperti ini. Luna masuk ke kamarnya dan langsung mencari handphonenya untuk menambahkan Lio sebagai teman di akun Line nya. Tanpa sadar Luna senyum-senyum sendiri.

 

“kok aku jadi salting gini sih ? ih aneh deh. Kenapa aku jadi inget Lio terus ? Udah ah mending aku bikin PR pak firman tadi siang.” Luna berusaha mengalihkan fokusnya kepada hal lain agar tidak kepikiran Lio terus. Maklumin Luna ya penonton, baru pertama ngerasain benih-benih asmara jadi salting

Prolog – Lio dan Luna

Standard

Suatu hari di sebuah sekolah menengah atas ada seorang pria bernama Lio. Lio adalah orang yang sangat vokal dan mudah bergaul dengan orang baru, tak heran Lio punya banyak teman dan cewek-cewek pun pada suka sama dia.

Hari ini adalah tanggal 15 di bulan april. Ada seorang murid baru bergabung dikelasnya. Dia adalah Luna pindahan dari SMA Bhakti Mulya. Luna sangat pemalu dan introvert.

“anak-anak kita kedatangan teman baru, luna silahkan perkenalkan diri kamu” kata Pak Firman nama guru di kelas tersebut

“Nama saya Luna” kata Luna singkat

Semua murid menyapanya “hai luna…”

Saat itu Lio melihat Luna dengan tatapan yang beda, melihat tingkah Luna yg pemalu membuat Lio penasaran dengan gadis ini.

Luna pun mengambil tempat duduk disebelah Rani. Pelajaran pun dimulai, semua murid kembali fokus belajar tapi tidak dengan Lio. Lio asyik memandang Luna sampai-sampai dia lupa dengan situasi disekitarnya.

Luna tampak begitu anggun dengan rambut panjangnya dan wajahnya yg manis.. Lio terlarut dalam lamunannya …

“LIO!”

Bentak pak firman.

Sontak Lio kaget dan gelagapan. melamun aja sih kayak nggak pernah liat cewek cakep aja hahaha.

“Gimana Lio benar apa salah ?”

“Benar pak !”

Sontak seisi kelas tertawa dengan kencang karena Lio menjawab benar, termasuk Luna yg tertawa kecil melihat Lio. dalam hati Lio bingung ini orang-orang kenapa ketawa dah buset..

“kamu ini pasti tidak memperhatikan saya ya ? saya tanya apakah benar ayam termasuk mamalia kamu jawab benar” jelas pak firman kepada lio.

“ma.. maaf bu.. saya kurang konsentrasi”

“apa kamu bilang ? BU ?”

“eh pak masuknya maaf pak..” balas Lio yang sudah terlanjur tidak fokus karena Luna

“makanya jangan banyak menghayal.. ”

“iya iya bu.. eh pak maksudnya hehe” kata Lio yang masih tidak fokus karena tidak minum aq*a eh salah maksudnya karena Luna.

Rama teman sebangku Lio langsung bertanya pada Lio..

“Loe kenapa yo ? kesambet hahaha”

“Gua lagi gak konsen tadi gara gara dia”

“Dia siapa ?”

(Lio hanya menunjuk Luna)

dengan nada agak keras sambung Rama “Oh jadi sekarang cowok paling kece di kelas yg direbutin cewek-cewek satu sekolah lagi naksir sama murid baru ?”

Semua murid langsung menoleh ke arah Lio dan nyorakin “Cieeeeeeee”

“Eh si kampret lu emang..” pekik Lio kepada Rama

“hahaha.. udah langsung aja samperin nanti waktu istirahat”

Jam istirahat tiba semua murid pergi ke kantin kecuali Luna karena dia sudah tebiasa membawa bekal dari rumahnya. saat semua orang pergi ke kantin Lio datang ke meja Luna.

“hai Luna! bawa bekal apa tu ?” tanya Lio dengan nada yg SKSD (sok kenal sok deket)

Luna hanya melirik Lio sedikit dan melanjutkan makan siangnya.

dalam hati Lio, gelo nih anak ngerti bahasa indonesia gak ya ? jangan-jangan dia biasa pake bahasa sansekerta anjir.

“hmm lo pindahan dari mana ?”

Luna tidak merespon tapi tetap fokus menyantap makan siangnya.

“tolong dong yang bisa bahasa sansekerta terjemahin bahasa gue ke dia” gumam Lio

“Mas, saya lagi makan bisa kan kita bicaranya nanti aja ?” jawab Luna dengan nada kesal

dalam hati Lio, judes banget sih nih cewek, dia gak tau apa kalau gua ini the most famous guy di kelas ini.

“Oh okay sorry lanjutin aja makannya.btw ini gue bukan dagang bakso so please jangan panggil gue mas mas ya” jawab Lio dengan sedikit menyeringai.

Luna tidak begitu mempedulikan Lio, dia masih sibuk menghabiskan makan siangnya.

tiba-tiba Ayu and the gang masuk ke kelas dan melihat Lio sedang berada di meja Luna

“Hai Lio ganteng….. ” kata Ayu dengan nada cabe-cabean

“yah orang-orang ini lagi” gumam Lio dengan malas

“Lio lio nanti sore kamu ada acara ? aku mau ngajak kamu nonton ada film bagus loh nanti.”  tanya Ayu. ngarep gils.

“hmm sorry gua ada urusan” dengan ketus Lio menjawab.

“kalo nanti malam gimana Lio ? kita ke pasar malam yuk” tanya ratih teman satu gang Ayu.

“Malem gue ada acara sunatan yang kedua sodara gue sorry ya” dengan terburu-buru Lio langsung cus cabut dari cabe-cabean itu.

“ish kesel deh gak pernah bisa jalan sama Lio! emangnya gue kurang cantik apa sih ?” ketus Ayu

“mungkin kamu terlalu lebay ngomongnya” celetuk Luna.

“eh lo murid baru biasa aja keles! gak usah ngajar-ngajarin gue, gua senior disini!” bantah Ayu dengan nada tinggi.

“belagu bener nih murid baru ya, minta di gampar!” balas Clara anggota the cabe-cabean.

“saya cuma ngasi saran aja, maaf kalo kalian tersinggung” kata Luna dengan gemetar.

“awas lo ya, lagi sekali lo nge-bacot gue habisin lo!” ancam Ayu dengan sadis.

sejak saat itu The gang cabe-cabean tidak suka dengan Luna. Ditambah lagi gara-gara Lio suka sama Luna membuat mereka tidak punya alasan untuk menyukai murid baru tersebut. The gang cabe-cabean ini kemudian mencari cara bagaimana agar Lio jadi benci sama Luna dan gak ngedeketin dia lagi.

Pelajaran kembali berlanjut sampai bel tanda pulang sekolah. Lio berkemas dengan cepat dan menghampiri Luna.

“Luna lo pulang sama siapa ?”

“Saya naik bemo”

“Hah ? naik bemo ?” tanya Lio dengan tidak percaya.

“Kenapa ? belum pernah liat cewek SMA naik bemo ya ?” jawab Luna menggelitik

“Aneh aja sih, sekarang kan udah banyak transportasi online yg lebih nyaman tapi lo masih naik bemo.. gimana kalau gue anter lo pulang ?

“Maaf saya tidak jalan dengan orang yang baru saya kenal”

anak rumahan banget sih orang ini, pikir Lio.

“Santai aja kali, gak mungkin lah gue ngajak lu ke semak-semak buat di perkosa terus dimutilasi” jawab Lio nyindir

Luna berkata dalam hati horror juga ni anak.

“gak deh makasi” jawab Luna singkat lalu pergi mencari Bemo.

“apa gue ngomongnya terlalu horror ya ? gue ikutin aja ah” gumam Lio.

Lio mengikuti Luna dari belakang memastikan kalau dia benar-benar mendapat bemo. Luna beridiri dipinggir jalan menunggu bemo yang lewat tapi tak kunjung ada yg lewat. sampai 1 jam berlalu masih belum ada bemo yang lewat.

“gimana ? lo masih mau nungguin sampai kiamat ?” celetuk Lio

“kamu ngapain masih disini ? jangan-jangan kamu beneran mau perkosa aku terus mutilasi aku ya ?!” jawab Luna dengan ketakutan

“ya Tuhan.. gila aja kali gue ngelakuin itu ke lo… ”

“terus ngapain ?”

“gue cuma mau mastiin lu dapat bemo atau nggak, soalnya disini susah, jarang ada yang lewat. gimana mau gua anter gak ? kalo gak sih gue pulang duluan”

“hmmm.. iya deh iya” jawab Luna sedikit kesal, karena pikirnya dari pada dia menunggu lama tapi tak ada bemo yang lewat, terpaksa ikut Lio si cowok yang pede abis.

Damai dalam Diam.

Quote

Damai dalam Diam.

Ada saatnya kita memiliki masa-masa sendiri, diam dan merenung dan menikmati detik demi detik kehidupan. Menjauh dari hiruk-pikuk rutinitas yang setiap hari membebani kepala. Sesekali mengambil waktu untuk meninjau kembali apa yang sudah kita lakukan, apa yang sudah tercapai dan prestasi apa yang kita perbuat sambil mengigat kembali apa tujuan hidup ini.

Pernahkah kita berpikir apa yang akan terjadi di masa yang akan datang ? pernahkan kita sadari bahwa rencana kita kedepan mungkin tidak semulus seperti yang kita rencanakan ? mungkin pernah terbesit dihatimu seperti itu, tapi jangan khawatir karena Tuhan pasti akan menyertai kita.

Saat aku pergi keluar berusaha mencari hiburan, sendiri tanpa orang lain, banyak hal muncul dipikiranku. Bahkan mulai kusadari bahwa terlalu banyak hal yang kita perlajari, terlalu banyak hal yang kita lakukan sampai-sampai kita lupa akan tujuan hidup kita yang semula. Memang banyak faktor yang memengaruhi hidup kita sehingga kita merasakan seolah-olah hidup dengan tugas yang sudah dipatok untuk dikerjakan dengan aturan-aturan yang merantai. Sampai-sampai kita lupa untuk menikmati kebebasan dan kedamaian.

Apakah ini hanya kekhawatiran ku atau memang kamu merasakannya juga ? entahlah mungkin kita hanya perlu diam dan merasakan damai itu.